Daiwi Sampad

17.5.17

Mardiyan Puasa Bicara

Mardiyan, monyet kecil yang cerewet itu tengah menjadi bahan gunjingan di antara kawan-kawan sesama monyet di hutan Gemah Ripah. Masalahnya sepele. Meskipun tidak bisa disebut sepele juga, sih. Yaitu, Mardiyan, sudah dua pekan ini berpuasa bicara.

Kawan-kawannya sesama monyet menganggap Mardiyan sudah terlalu manusiawi. Padahal biasanya, jika tidak tidur atau mati, Mardiyan tidak akan berhenti berceloteh. Salah seorang tetua monyet, Pak Dulatip, malah menceramahi monyet-monyet muda akibat sikap Mardiyan. Katanya, itulah akibatnya kalau terlalu sering menonton televisi.

Memang sudah terkenal, Mardiyan adalah pecandu televisi. Biasanya tengah malam, ketika semua monyet terlelap di balik daun, Mardiyan menyelinap. Menuju pangkalan ojek yang tidak jauh dari hutan Gemah Ripah. Di atas sebuah dahan di samping pangkalan itulah, Mardiyan sering begadang menyaksikan televisi yang dibiarkan menyala sepanjang malam. Sementara beberapa tukang ojek justru meringkuk di sarungnya.

Demikianlah, puasa bicara Mardiyan dikaitkan dengan kerapnya menonton acara-acara manusia di televisi. Mardiyan mungkin mengikuti tingkah manusia, yang juga mungkin melakukan puasa bicara. Mardiyan pasti mengikuti para biksu-biksu buddha. Atau seperti pesulap yang berpenampilan dukun itu, Limbah.

Hal tersebut yang paling ditakutkan oleh para monyet, bahwa ada monyet yang meniru laku manusia. Jika generasi lebih muda meniru Mardiyan yang meniru manusia, maka nilai-nilai kemonyetan akan terkikis dan kehilangan identitas.

Merasa semakin gawat, segala upaya dilancarkan kawan-kawannya agar Mardiyan mau berbicara lagi. Mereka sangat yakin, Mardiyan hanya puasa, tidak bisu betulan. Sekuat apapun mereka mencoba, hasilnya nihil. Mardiyan tetap berkeras untuk tidak membuka mulutnya. Kawan-kawannya menyerah. Mereka membiarkan Mardiyan berpuasa bicara sepuasnya.

Jauh di dalam pikirannya, Mardiyan ingin sekali berbicara dengan kawan-kawannya. Cerewet seperti biasanya. Namun, jangankan bicara, membuka mulutnya pun ia tidak mampu. Sariawan di mulutnya sudah demikian parah.


Bandung, 9 Mei 2017