Daiwi Sampad

23.9.17

Bukan Monolog, karena Aku Bertanya

Aku tidak paham cinta. Jadi, jangan pernah tanyakan itu. Aku bersamamu karena suatu alasan. Alasan yang tidak akan pernah kita temukan jawabnya. Anggap saja, ada temali kasat mata yang mengatur laku kita. Digerakkan oleh sesuatu yang kasat pula. Sebuah kekuatan besar yang otoriter sehingga kita tidak berdaya untuk melawan. Mungkin juga akibat turut campur tangan alam semesta. Mempertemukan kita. Kemudian mengharuskan kita untuk bersama. Sesederhana itu. Anggap saja begitu.

Aku bukan Rama yang rela melawan raja Alengka bernama Rahwana untuk mengais hati Sinta. Aku juga tidak seperti Arjuna yang membuat Drupadi menjadi setengah sinting karena cinta. Aku juga bukan sejoli rekaan Shakespeare yang rela mati demi bersama. Aku juga bukan Paris yang rela mati untuk Helena. Aku juga bukan Lancelot yang memendam cinta pada Guinevere hingga kematian menjemputnya. Tidak.

Aku seperti lelaki kebanyakan; mempunyai kisah cinta biasa di masa lalu. Yang indah atau getir. Itu tidak jadi soal. Tidak perlu juga kamu persoalkan. Yang pasti, aku tidak kuasa merajut kisah romantis yang kelak akan bercokol di toko buku.

Seperti kata Sapardi. Penyair tua itu. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana; Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Sederhana. Ya! Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Tidak menggebu. Segala yang menggebu acapkali membuahkan sesal. Atau genangan airmata pada bantal.

Aku juga tidak berharap pada cinta yang sejati. Tapi biarkan aku mencicipi cinta yang bukan sesaat. Ya, bukan sesaat. Kalau boleh kusimpulkan dan tidak terlalu muluk, bukan sesaat adalah selamanya. Maaf atas kelancanganku. Tapi aku ingin bersamamu sampai waktu mulai bosan menahan usiaku. Aku ingin mati di pangkuanmu. Sungguh, nona.

Aku pernah menyaksikan matahari tenggelam yang paling indah. Di pulau paling barat negeri ini. Begitu bulat. Jingga keemasan. Sayu. Memuat kesedihan sekaligus gairah. Begitu teduh. Beruntungnya, aku menemukan hal serupa pada matamu. Mata yang pernah sembap akibat kekurangajaranku. Mata yang menyipit seiring dengan otot pipimu yang tertarik ketika kamu terbahak. Mata yang mengintimidasi ketika mulai kusulut lagi batang rokok selanjutnya.

Aku tahu. Itu sembrono. Maafkan aku yang dilahirkan sebagai makhluk yang tak mengenal adab ini. Kamu terlalu istimewa. Setidaknya dari kacamataku. Kamu adalah nektar. Aku adalah lebah kecil pemalas yang mudah meregang nyawa bahkan oleh telapak tangan bayi sekalipun. Kamu adalah andromeda. Primadona di langit malam. Aku hanyalah bintang mungil tidak bernama. Begitu berdebu. Yang siap jatuh kapan saja lantas menjadi sebutir pasir sesaat setelah menyentuh bumi.  

Aku punuk yang merindukan bulan. Bukan. Sudah tidak relevan untuk zaman sekarang.

Aku adalah duri yang merindukan mawar. Kurang ajar betul. Tidak mawas diri.

Tapi yang perlu kamu ingat. Bukan mawar jika tidak berduri.

Aku cinta kamu. Tapi, jika kamu tanyakan apa itu “cinta”, tolong jangan malas untuk membaca ulang kalimat pembuka tulisan ini.

Aku hanya mencintaimu. Itu saja. Dengan cinta yang sederhana. Tentu saja. Bukan cinta yang sesaat. Itu pasti.

Untuk pertama-kalinya akan kusisipkan namamu di antara jutaan huruf yang pernah kurangkai; sudikah kamu menjadi istriku, Firda?


Selatan Jakarta, September 2017

19.9.17

Tapi Tidak dengan Mereka

Sumber Gambar : thelookofsilence.com

Aku tidak mengalami peristiwa berdarah itu. Juga sebagian besar dari mereka. Aku dipaksa menyaksikan komidi gambar memomokkan itu. Juga sebagian besar dari mereka. Aku dipatri dogma sesat oleh jenderal yang hobi tersenyum itu. Juga sebagian besar dari mereka. Aku hidup dalam paranoia atas lambang dua perkakas tani. Juga sebagian besar dari mereka.

Aku merayakan tumbangnya pohon cendana. Juga sebagian besar dari mereka.

Lalu.

Aku membaca apa yang sebelumnya sumbang. Aku mempelajari segala yang sebelumnya tabu. Aku merdeka dari kutukan bolor, congek, gagu, dan dari kegoblokan.

Tapi tidak dengan sebagian besar dari mereka.



Jakarta, September 17

10.9.17

Sekali Waktu Ketika Hujan Turun

Sejenak kumatikan peranti pemutar lagu yang mengalun sejak pagi. Hujan turun. Baru saja. Aku ingin mendengarkan suara rinai hujan. Suara hujan pada atap. Suara hujan pada dedaunan. Suara hujan pada apa saja yang tidak berpayung.

Aku ingin gendang telingaku digetarkan dentum petir yang menyalak. Aku ingin ulu-hatiku bergetar setiap kilat menyambar. Aku ingin menghidu aroma hujan yang sedikit apak.

Aku tidak pernah menganggap hujan sebagai suatu yang romantis. Sungguh.

Bagiku hujan biasa saja. Tidak memuat kenangan tentang apapun. Baik manis atau pahit. Tidak membangkitkan gairah apapun. Baik romantis atau kecewa. Tidak membawa memori apapun. Baik indah atau getir. Hujan bagiku biasa saja.

Yang tidak biasa hanyalah rindu. Aku merindu hujan kali ini. Hujan yang dibayar kontan. Sesaat setelah hampir saja tewas terpanggang.

Aku merindu hujan seperti Jakarta yang aduhai panasnya beberapa hari ini.


Jakarta, September 2017

5.9.17

Pulanglah, Nak

Wiji Thukul Hilang Sejak 1998
Pulanglah, nak. Tidak kau rindu kumandang adzan yang bangunkan dengkurmu? Tidak kau rindu gemerisik dedaunan kering yang diseka bapak di jerambah? Tidak kau rindu gangsi asap dapur dari petanakan emakmu? Pulanglah, nak.

Pulanglah, nak. Tidak kau bengap oleh deru kendaraan yang menyambut pagimu? Tidak kau takut tersungkur dengan langkah-langkah yang cepat itu? Tidak kau iba pada dadamu yang bernas akan tuba perkotaan? Pulanglah, nak.

Pulanglah, nak. Bapak dan emak semakin bangkot. Tidak kami merindu surga tanpa bahagiamu. Tidak ada lahap nasi kami mamah tanpa bersamamu.

Pulanglah, nak. Meski tinggal nama. Meski tanpa nyawa.


Jakarta, September 2017

4.7.17

Banyak Lampu di Kota

Orang kota boleh jemawa mempunyai gedung-gedung penyabik angkasa. Orang kota boleh bangga pada gagahnya barisan pusat niaga yang mereka punya. Orang kota boleh tertawa kala awal bulan tiba. Orang kota boleh pongah ketika membopong hasil belanja membabi-buta. Orang kota boleh dabik-dada ketika anaknya justru tak pandai bahasa bunda. Orang kota boleh bangga ketika merasa berkuasa atas orang-orang desa.

Tapi, banyak lampu di kota. Orang kota tak bisa menyaksikan bintang ketika gelap tiba. Banyak asap di sana. Orang kota tak punya warna biru yang hiasi cakrawala. Banyak kendaraan bising di sana. Orang kota tak bisa nikmati nyanyian katak jantan gauli yang betina. 

Tidak ada embun pagi di kota. Yang ada hanya paranoia terlambat masuk kerja. Tidak ada air jernih di kota. Yang ada hanya sungai menghitam sisa buangan tinja. Tidak ada senandung burung di kota. Yang ada hanya tangis duka para melarat yang malu kembali ke desa.

Tidak ada apa-apa di kota. Selain lampu-lampu. Dan uang. Dan uang. Dan uang.

Dan uang.


Jakarta, Juli 2017