Daiwi Sampad

25.5.17

Kemarau di Malam Hari

Aku adalah kemarau yang tidak pernah cemburu pada hujan. Hujan yang dianggap sendu dan syadhu. Hujan yang menghantarkan berjuta kenangan pada benak-benak yang lengang. Hujan yang selalu berhasil menghasilkan puisi-puisi bernada puitik. Aku tidak pernah mencemburui hujan yang mampu membangkitkan dedaunan yang mati-suri.

Aku adalah malam yang tidak pernah cemburu pada senja. Senja yang selalu dianggap romantis. Senja yang mendentingkan urat-urat paling jago perihal afeksi pada mantik. Aku juga tidak pernah cemburu pada senja yang diselimuti cahaya lembut baskara jingga keemasan. Juga tidak cemburu pada senja yang menjadi taman bermain para Dewi Amor.

Aku hanya cemburu pada ia yang mampu membuatmu jatuh-cinta. Ia yang mampu meneduhkanmu dengan matanya. Ia yang kamu izinkan berenang bebas dalam bunga-tidurmu. Ia yang kamu perbolehkan mengusap air lara yang mulai meleleh di pipimu. Aku cemburu ketika kamu melepas kancingnya satu-persatu. Dan membisikkan kata cinta termesra yang kamu mampu ucapkan.

Aku adalah kemarau di malam hari. Tak apa, setidaknya aku masih ditemani oleh bulan yang bersinar keperakan. Dan orang-orang mulai bercinta seusai melepas lelah.

Jakarta, 25 Mei 2017

Mardiyan Gemar Membaca Buku

Monyet-monyet di hutan Gemah Ripah kembali dipusingkan oleh perilaku Mardiyan. Monyet kecil yang cerewet itu selalu saja membuat polah. Beberapa waktu yang lalu, ia pernah puasa bicara, pernah juga dirinya mogok makan pisang. Mardiyan sering sekali bertingkah seperti manusia.

Kali ini ia mulai gemar membaca buku.

Di hutan Gemah Ripah, tentu saja tidak ada buku. Hutan lindung itu hanya berisikan hewan-hewan yang tidak mungkin memiliki buku. Mardiyan mendapat bukunya tersebut ketika dirinya bermain di pasar manusia. Mardiyan memang monyet kecil yang paling nakal di antara monyet-monyet sepantarnya. Ia kerap mencuri kesempatan untuk menyelinap ke luar hutan.

Sekira pekan lalu, Mardiyan menyelinap ketika penghuni hutan Gemah Ripah tengah terlelap usai pesta pernikahan anak Pak Dulatip, tetua monyet. Sudah menjadi tradisi, akan digelar hajatan jika ada monyet yang menikah. Biasanya sekira dua hari dua malam. Terlebih jika anak tetua yang menikah. Pesta bisa berlangsung selama seminggu tanpa henti.

Kelelahan usai pesta yang mendera monyet-monyet dan penghuni hutan Gemah Ripah ini dimanfaatkan oleh Mardiyan untuk menyelinap. Diam-diam ia berangkat setelah semua monyet dirasa sudah terlelap. Ia berjinjit perlahan melewati tubuh-tubuh monyet yang tidak berdaya diserang kantuk. Kemudian dirinya menuju pasar. Tempat manusia berkumpul.

Di pasar, ia biasanya mencuri buah-buahan, atau makanan dalam sesajen yang berserakan di trotoar. Namun pagi itu, ia justru tertarik pada pedagang buku. Perlahan, ia mengendap dari batang pohon, kemudian mendekati pedagang buku tersebut. Ketika kakek penjualnya lengah, dengan gerakan segesit lebah, ia menyambar sebuah buku. Ia tidak mempunyai kesempatan untuk memilah judul buku yang disenanginya. Pokoknya, asalkan ambil saja dahulu.

Mardiyan kemudian kembali ke dahan pohon diiringi makian dari kakek penjual buku, yang meneriakinnya sebagai anjing. Padahal dirinya monyet.

Begitulah awalnya mengapa Mardiyan mulai gemar membaca buku. Buku yang disambarnya ternyata berjudul “Menikah Muda, Siapa Takut?!”, karya seorang doktor. Mardiyan tidak peduli dengan isi buku tersebut, ia hanya ingin membaca.

Kegemaran baru Mardiyan tersebut membuat teman-temannya resah. Mereka takut jika Mardiyan ingin menjadi manusia. Dalam dunia monyet, meniru manusia adalah aib. Gawat jika perilaku Mardiyan dicontoh oleh monyet-monyet yang lebih muda. Nilai-nilai kemonyetan bisa saja terkikis dan mengalami krisis identitas.

Berbagai upaya dikerahkan oleh teman-teman Mardiyan. Mulai dari merayunya untuk berhenti membaca buku, hingga mengancam akan menggebukinya jika masih bersikeras untuk membaca. Namun usaha mereka nihil. Mardiyan tetap ingin membaca buku. Setiap hari ia menenggelamkan wajah di balik buku curian tersebut.

Hingga suatu hari, monyet-monyet ini merebut paksa buku ketika Mardiyan tengah asik membacanya di balik daun sambil menyeruput limun. Mardiyan berang bukan main. Teman-temannya saling oper buku tersebut agar tidak kembali ke genggaman Mardiyan. Mardiyan mulai menangis karena kegemaran barunya direnggut.

“Lupakan saja buku ini, Mar! Kamu tidak boleh membaca buku, karena itu menyerupai perilaku manusia!” seru Erlangga, salah satu teman yang menyabotase buku Mardiyan.

Mardiyan terisak, “Justru kalian yang seperti manusia. Karena manusia tidak ada yang membaca buku!”



Selamat Hari Buku Nasional!

Jakarta, 17 Mei 2017


17.5.17

Mardiyan Puasa Bicara

Mardiyan, monyet kecil yang cerewet itu tengah menjadi bahan gunjingan di antara kawan-kawan sesama monyet di hutan Gemah Ripah. Masalahnya sepele. Meskipun tidak bisa disebut sepele juga, sih. Yaitu, Mardiyan, sudah dua pekan ini berpuasa bicara.

Kawan-kawannya sesama monyet menganggap Mardiyan sudah terlalu manusiawi. Padahal biasanya, jika tidak tidur atau mati, Mardiyan tidak akan berhenti berceloteh. Salah seorang tetua monyet, Pak Dulatip, malah menceramahi monyet-monyet muda akibat sikap Mardiyan. Katanya, itulah akibatnya kalau terlalu sering menonton televisi.

Memang sudah terkenal, Mardiyan adalah pecandu televisi. Biasanya tengah malam, ketika semua monyet terlelap di balik daun, Mardiyan menyelinap. Menuju pangkalan ojek yang tidak jauh dari hutan Gemah Ripah. Di atas sebuah dahan di samping pangkalan itulah, Mardiyan sering begadang menyaksikan televisi yang dibiarkan menyala sepanjang malam. Sementara beberapa tukang ojek justru meringkuk di sarungnya.

Demikianlah, puasa bicara Mardiyan dikaitkan dengan kerapnya menonton acara-acara manusia di televisi. Mardiyan mungkin mengikuti tingkah manusia, yang juga mungkin melakukan puasa bicara. Mardiyan pasti mengikuti para biksu-biksu buddha. Atau seperti pesulap yang berpenampilan dukun itu, Limbah.

Hal tersebut yang paling ditakutkan oleh para monyet, bahwa ada monyet yang meniru laku manusia. Jika generasi lebih muda meniru Mardiyan yang meniru manusia, maka nilai-nilai kemonyetan akan terkikis dan kehilangan identitas.

Merasa semakin gawat, segala upaya dilancarkan kawan-kawannya agar Mardiyan mau berbicara lagi. Mereka sangat yakin, Mardiyan hanya puasa, tidak bisu betulan. Sekuat apapun mereka mencoba, hasilnya nihil. Mardiyan tetap berkeras untuk tidak membuka mulutnya. Kawan-kawannya menyerah. Mereka membiarkan Mardiyan berpuasa bicara sepuasnya.

Jauh di dalam pikirannya, Mardiyan ingin sekali berbicara dengan kawan-kawannya. Cerewet seperti biasanya. Namun, jangankan bicara, membuka mulutnya pun ia tidak mampu. Sariawan di mulutnya sudah demikian parah.


Bandung, 9 Mei 2017

Orang-Orang yang Mengumpat

Ludah. Orang-orang meludah di mana-mana. Ludah di ubin. Ludah di tembok. Di bangku. Di meja. Di daun pintu. Jendela. Televisi. Surat-kabar. Ludah di mana-mana. Berserakan seperti di lantai stasiun atau terminal kelas E.

Pesing. Bau pesing. Orang-orang kencing berdiri di balik pohon atau tembok milik tetangga. Diam-diam. Mengendap dalam gelap. Membuang kencing yang hangat dan kuning pekat. Bau pesing. Orang-orang membuang kencing.

Menyembur. Orang-orang menyembur. Menyembur anjing dari mulutnya. Menyembur goblok dari mulutnya. Menyembur cinta dari mulutnya. Menyembur Tuhan. Menyembur doa. Menyembur kata binasa. Orang-orang menyembur. Seperti kobra yang terdesak di antara kawanan musang. Menyembur bisa.

Menggonggong. Orang-orang menggonggong. Menggonggong di belakang punggung kawan. Seperti anjing yang kena kebiri. Takut berkelahi sekaligus menahan berahi. Menggonggong seperti anjing yang takut kehilangan kawanan.

Mengumpat. Orang-orang pada mengumpat. Orang-orang akan mengumpat. Orang-orang mulai mengumpat. Orang-orang yang mengumpat.


Bandung, 28 April 2017

23.3.17

Kicau Burung Penyemai Padi

Aksi Protes Para Petani Kendeng di Depan Istana Presiden
Guna Menolak Pendirian Pabrik Semen di Rembang, Jawa Tengah
Sumber Gambar: media.viva.co.id

Apa bapak abai? Yang menggemuki lambungmu itu adalah anak-anak kami. Anak-anak yang merunduk ketika makin berisi. Bapak mungkin lalai? Yang meredam cacing-cacing berisik di perutmu adalah anak-anak kami. Anak-anak yang menjadi simbol keadilan bagi sosial di negeri ini.

Kami tidak mengharap upah selangit seperti kawan-kawan bapak di kota. Gubuk kami tidak perlu diberi pendingin ruangan seperti di kantor kawan-kawan bapak juga. Tidak usah pula beri kami sandang berbahan sutra, kami sudah cukup intim dengan kaus bergambar wajah bapak ketika kampanye silam. Tidak perlu juga bapak sediakan kami mobil berbagai merk. Kami cukup senang memintas telanjang kaki, atau menumpak pedati sesekali.

Bapak tidak perlu terjaga dalam pulas untuk memikirkan kami tidur beralaskan apa. Bapak tidak perlu menahan air liur guna pikirkan kami makan bertemankan apa. Bapak juga tidak perlu sibukkan benak guna berwalang hati ketika anak-anak kami mandek sekolah. Tidak perlu semua itu, pak..

Hanya saja tolong jaga sawah kami. Tolong lindungi gunung kami. Tolong rawat pepohonan kami.

Kami berjanji, seperti bapak berjanji. Kami tak akan biarkan perutmu rindu akan nasi. Asalkan kami tetap diizinkan menyemai padi.


Bandung, Maret 2017