Daiwi Sampad

6.10.17

Cacing Tanah

Sumber Gambar : riaurealita.com

Kenangan itu merambati lekuk-lekuk arteri. Perlahan. Pelan. Terbawa oleh darah yang dipompa buru-buru oleh kardia. Serupa piston sepur yang diperbabu tanpa rehat barang sejenak. Kenangan itu membalut erat serupa musculus yang membebat belulang. Ketat. Layaknya petugas terminal yang menyelia barang bawaan para calon penumpang. Seolah tidak diizinkan kenangan itu menyusup melalui pori-pori yang kemudian menguap bercampur polusi udara ibu kota.

Kenangan itu adalah racun. Adalah toxic yang akan berbuah kanker jika dipiara. Adalah candu yang kuasa binasakan impresi. Adalah rabun yang samarkan netra. Adalah cendana pada akasia. Adalah landlord pada proletar. Adalah Belanda pada Hindia. Adalah Tunggul Ametung pada Tumapel. Adalah potas pada gereh.

Aku pernah dihinggapi kenangan yang bertransformasi menjadi rindu. Aku pernah rasakan rindu sepahit empedu. Rindu yang tak berbalas. Rindu yang jalari waktu yang bergerak perlahan. Yang membunuh jika dibiakkan, namun terlalu sayang untuk dibiarkan binasa. Sebuah rindu yang tidak kuinginkan keberadaannya. Aku tidak tahu mana yang lebih digdaya. Apakah diriku. Apakah rasa rindu ini.

Aku tidak kuasa menahan rindu yang terasa getir ini. Begitu pahit. Begitu menyakitkan.

Terdengar sapaan dari ujung sana. Suaranya. Aku menyerah. Kumatikan ponsel.


Bandung, Januari 2017

19.9.17

Tapi Tidak dengan Mereka

Sumber Gambar : thelookofsilence.com

Aku tidak mengalami peristiwa berdarah itu. Juga sebagian besar dari mereka. Aku dipaksa menyaksikan komidi gambar memomokkan itu. Juga sebagian besar dari mereka. Aku dipatri dogma sesat oleh jenderal yang hobi tersenyum itu. Juga sebagian besar dari mereka. Aku hidup dalam paranoia atas lambang dua perkakas tani. Juga sebagian besar dari mereka.

Aku merayakan tumbangnya pohon cendana. Juga sebagian besar dari mereka.

Lalu.

Aku membaca apa yang sebelumnya sumbang. Aku mempelajari segala yang sebelumnya tabu. Aku merdeka dari kutukan bolor, congek, gagu, dan dari kegoblokan.

Tapi tidak dengan sebagian besar dari mereka.



Jakarta, September 2017

10.9.17

Sekali Waktu Ketika Hujan Turun

Sejenak kumatikan peranti pemutar lagu yang mengalun sejak pagi. Hujan turun. Baru saja. Aku ingin mendengarkan suara rinai hujan. Suara hujan pada atap. Suara hujan pada dedaunan. Suara hujan pada apa saja yang tidak berpayung.

Aku ingin gendang telingaku digetarkan dentum petir yang menyalak. Aku ingin ulu-hatiku bergetar setiap kilat menyambar. Aku ingin menghidu aroma hujan yang sedikit apak.

Aku tidak pernah menganggap hujan sebagai suatu yang romantis. Sungguh.

Bagiku hujan biasa saja. Tidak memuat kenangan tentang apapun. Baik manis atau pahit. Tidak membangkitkan gairah apapun. Baik romantis atau kecewa. Tidak membawa memori apapun. Baik indah atau getir. Hujan bagiku biasa saja.

Yang tidak biasa hanyalah rindu. Aku merindu hujan kali ini. Hujan yang dibayar kontan. Sesaat setelah hampir saja tewas terpanggang.

Aku merindu hujan seperti Jakarta yang aduhai panasnya beberapa hari ini.


Jakarta, September 2017

5.9.17

Pulanglah, Nak

Wiji Thukul Hilang Sejak 1998
Pulanglah, nak. Tidak kau rindu kumandang adzan yang bangunkan dengkurmu? Tidak kau rindu gemerisik dedaunan kering yang diseka bapak di jerambah? Tidak kau rindu gangsi asap dapur dari petanakan emakmu? Pulanglah, nak.

Pulanglah, nak. Tidak kau bengap oleh deru kendaraan yang menyambut pagimu? Tidak kau takut tersungkur dengan langkah-langkah yang cepat itu? Tidak kau iba pada dadamu yang bernas akan tuba perkotaan? Pulanglah, nak.

Pulanglah, nak. Bapak dan emak semakin bangkot. Tidak kami merindu surga tanpa bahagiamu. Tidak ada lahap nasi kami mamah tanpa bersamamu.

Pulanglah, nak. Meski tinggal nama. Meski tanpa nyawa.


Jakarta, September 2017

4.7.17

Banyak Lampu di Kota

Orang kota boleh jemawa mempunyai gedung-gedung penyabik angkasa. Orang kota boleh bangga pada gagahnya barisan pusat niaga yang mereka punya. Orang kota boleh tertawa kala awal bulan tiba. Orang kota boleh pongah ketika membopong hasil belanja membabi-buta. Orang kota boleh dabik-dada ketika anaknya justru tak pandai bahasa bunda. Orang kota boleh bangga ketika merasa berkuasa atas orang-orang desa.

Tapi, banyak lampu di kota. Orang kota tak bisa menyaksikan bintang ketika gelap tiba. Banyak asap di sana. Orang kota tak punya warna biru yang hiasi cakrawala. Banyak kendaraan bising di sana. Orang kota tak bisa nikmati nyanyian katak jantan gauli yang betina. 

Tidak ada embun pagi di kota. Yang ada hanya paranoia terlambat masuk kerja. Tidak ada air jernih di kota. Yang ada hanya sungai menghitam sisa buangan tinja. Tidak ada senandung burung di kota. Yang ada hanya tangis duka para melarat yang malu kembali ke desa.

Tidak ada apa-apa di kota. Selain lampu-lampu. Dan uang. Dan uang. Dan uang.

Dan uang.


Jakarta, Juli 2017